Friday, May 20, 2011

Cukup Siti Nurbaya

Same story.. same time.. and I wish this is not about the same person. (udah terlalu banyak ‘kebetulan2’ dalam hidup gw  *ketawa maksa* )

Berawal dari seseorang yang ngomong gini ke gw [dan beberapa temen cewek] : bagaimana seandainya lo terjebak dalam sebuah pertunangan yang lo sendiri nggak menginginkannya? (sebenernya yang nanya ini nggak bilang pertunangan sih, cuma gw gak nemu kata yang cocok untuk menggambarkan situasi dimana seseorang baru dikenalkan, dan dalam minggu itu telah terjadi persiapan2 menuju pernikahan. Weird!!)

Sounds familiar.. beberapa hari yang lalu gw juga menemukan cerita yang sama, waktu yang berdekatan.. (tuh kan, terlalu banyak kebetulan dalam hidup gw, hehe.. kalo ngutip obrolannya gw sama astried, “dunia yang terlalu sempit atau kita yang kebanyakan teman yah?” hoho.. ) Bedanya, kisah yang satu lagi belom sampe persiapan apa2 gitu. Mudah2an kejadiannya nggak se-complicated ini.

Gw gak terlalu tau detilnya seperti apa. Dari sepenggal cerita yang dipaparkan setelah pertanyaan tersebut, gw mencoba membayangkan apa yang dirasakan perempuan itu. Hari itu dia diajak ke rumah seseorang yang nggak dikenal, berkenalan dengan banyak orang baru dan ditawarkan sebuah relationship dengan salah satu anggota keluarga mereka. Jawaban positifnya terhadap relationship itu diartikan berbeda. Dia dianggap bersedia menikah. Whoaaa.. gila apaaaahh??! Sementara dia tidak berpikir sejauh itu. hanya mencoba menjalani sebuah relationship.

And the complicated story begin.. Dia tidak menyangka se-buru2 ini, dia tidak menyukai ‘pertunangan’ ini, dan.. dia tidak menyukai calon suaminya. Kalo mundur sudah terlambat (kata orang2), karena akan banyak pihak yang dipermalukan termasuk orangtuanya. Kalo diteruskan... (gila aja! kata gue.. hehe..)

Gw pernah ngobrol sama bokap tentang yang begini2an. Kata bokap gw, itu lumrah di adat Batak dan itu nggak menyalahi aturan. (nah lo..) Tapi bokap gw fair enough, kalo dihadapkan pada masalah jodoh2an gini, keputusan utama tetap di tangan putra putrinya (aiiihh.. bokap gw kerenn yaaaaahh..! ^,^ )

Nah, balik lagi ke masalah wanita tak dikenal tadi. Bukan perjodohannya yang jadi masalah. Tapi fast response nya itu loooh.. mungkin masalahnya nggak akan se-complicated ini seandainya saja dia diberi kebebasan untuk mengenal dan memutuskan mau dibawa kemana hubungan ini nantinya (eh kayak lagu yah, hihi..). Dan gw rasa ini juga baik buat pihak cowok. Dia kan belom kenal juga sama ceweknya. Kalo ternyata ceweknya psikopat gimana hayoo..

So, the moral from this story.. (1) Jangan terlalu cepat bereaksi, pahami dulu apa yang dimaksud oleh lawan bicaramu. Samakan persepsi. Kalo perlu gunakan kata “maksudnya?” berulang2. Biar aja dianggep bego, daripada dibego2in.. (2) Mintalah pendapat pada ortu, kakak/adik, kakak rohani/pembimbing rohani, sahabat terdekat, dalam mengambil keputusan2 penting dalam hidupmu, karena mereka representasi Tuhan di dunia ini. Lo kan gak cukup suci kayak Musa sampe bisa dengerin suara Tuhan. (3) Berani bilang nggak untuk hal2 yang bertentangan dengan kata hatimu  :)

Udah ah.. berpendapat itu memang mudah kalo bukan kita yang mengalaminya :p  *ngesotkabur*

Oh.. cukup Siti Nurbaya yang mengalami.. pahitnya dunia.. (DEWA 19, 1995)

0 comments: