Please skip this posting karena gue cuma pengen ngomel2 hari ini :p
"Seorang anak sampai jatuh dalam keadaan gizi buruk itu karena orangtuanya miskin, jadi nggak bisa beli makanan sehat."
Kata siapa? Gue nggak setuju!
Nggak usah bawa-bawa masalah ekonomi deh.. Kalo ada ibu yang anaknya sampai gizi buruk, itu karena ibunya males! Nggak care sama anaknya.
Sorry gue bukan mau nge-judge orang, tapi menurut gue, yang paling pegang peranan dalam tumbuh kembang seorang anak ya orangtuanya. Gizi buruk kan bukan keadaan yang terjadi dalam waktu singkat. Butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan. Masa sih ibunya nggak 'ngeh' kalo anaknya makin kurus, berat badannya nggak naik2, mulai sakit2an..
Makanan sehat nggak harus mahal. Kalo nggak bisa beli daging atau ayam, tempe dan tahu juga proteinnya nggak kalah tinggi. Kalau nggak bisa beli sayur dan bumbu masak, tanam aja di halaman rumah.
Ini kan bukan di daerah gurun yang panasnya bisa bikin kita sampai dehidrasi, yang tanahnya sedemikian kering dan berpasir sampai nggak ada tanaman yang bisa tumbuh selain kaktus, yang memang mengharapkan suplai makanan dari daerah lain untuk bisa bertahan hidup. Ini Indonesia! kata Oom Koes Plus, tongkat kayu dan batu aja bisa jadi tanaman :p
Gizi buruk itu adalah masalah kurangnya perhatian orang tua. (Okey, multifaktor sih.. tapi menurut gw ini yang paling pegang peran.) Kalo mau miskin-miskinan, kenapa anak-anak jalanan pada sehat-sehat? Kenapa bayi-bayi yang sering digendong ibu-ibu di lampu merah itu nggak ada yang kurus kering?
Ini yang lebih ironis : Ketika saya bekerja di sebuah rumah sakit swasta di ibukota, beberapa kali saya menemukan penderita gizi buruk dirawat di ruangan kelas 1. Anaknya kurus kering, matanya cekung, mukanya tua karena memang hanya tinggal kulit membungkus tulang. Ibunya cantik, modis, 'sehat' (baca: montok) dan perhiasan emasnya berjejer dari leher sampai jari. Siapa yang salah di sini? Kemiskinan atau ketidakpedulian? (atau kebodohan?) *sigh*
Jadi, masih nyalahin kemiskinan? Udah cukuplah kita mengkambinghitamkan kemiskinan. Udah terlalu sering kata itu dipakai dimana-mana.
0 comments:
Post a Comment