Hari ini ulang tahun papaku. 59 tahun. Ternyata sudah 5 tahun ia hidup dengan jantung yang fungsinya tinggal 25%. Praise The Lord!
Tuhan itu baik banget sama papaku. Di usia 53 tahun, papa terkena serangan jantung. Ia tergeletak cukup lama di kamar sendirian sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit umum di daerahku, yang nggak punya fasilitas emergency jantung. Beberapa hari kemudian, dalam keadaan yang belum stabil benar, papa diterbangkan ke Jakarta dan menjalani perawatan intensif selama 1 bulan. kerusakan jantungnya cukup luas. Otot jantung bagian anterior (depan), posterior (belakang) dan lateral (samping) mengalami infark (kematian). Papa keluar dari rumah sakit setelah terpasang 4 stent di jantungnya. Kenapa nggak by pass? Kata kardiolog nya, nggak cocok di by-pass.
Tidak sampai 1 tahun kemudian, papa serangan lagi. Kali ini kerusakannya tambah luas. Fungsi jantungnya diperkirakan tinggal 20%. Dokter jantung yang menangani kasus papa menyarankan supaya papa dirawat inap sampai stabil lalu dibawa pulang, karena pemasangan stent tambahan pun tidak akan banyak menolong, bahkan mungkin hanya akan buang-buang biaya saja. Hidupnya diperkirakan takkan lama lagi. Aku dan mama disarankan mengajak papa melakukan hal-hal yang bisa memaksimalkan hidupnya. Rasanya aku pengen mati aja saat itu. Papa yang nggak tau apa yang sedang terjadi dan menyerahkan keputusan sepenuhnya padaku dan mama. Mama yang galau dan kehilangan pegangan tidak bisa mengambil keputusan. Dan aku yang masih galau karena baru saja putus dengan pacarku di hari ulang tahunku. (oke.. no curcol disini mel..)
Papa keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah dengan tambahan 2 stent, sangat lemah dan tidak boleh melakukan aktifitas apapun. Ia harus melepaskan segala urusan bisnisnya dan 'menikmati hidup'. Post Power Syndrome-nya dimulai. Ia jadi gampang tersinggung, gampang marah, merasa tidak berharga lagi..Usaha papa mengalami kemunduran. Keluarga kami pun harus belajar mengencangkan ikat pinggang. Memangkas pengeluaran-pengeluaran yang nggak perlu.
Mungkin memang dibutuhkan kejatuhan yang sedemikian hebat untuk membuat kita menyadari indahnya bergantung pada Tuhan.
Titik terang untuk kemajuan kesehatan papa mulai terlihat ketika seorang saudara (inilah okenya orang Batak! semua bisa jadi sodara ^_^) menyarankan mencari second opinion ke luar negeri. Ia memberikanku alamat email seorang dokter di Singapura yang menurutnya mungkin mampu menangani kasus papa. Setelah mengirimkan seluruh medical record papa dan berkomunikasi via email (dengan bahasa inggris gw yang pas2an! Thank God untuk setiap istilah2 kedokteran, haha..) papa diminta dibawa ke Singapura. Papa, mama dan aku, berangkat ke Singapura dengan modal nekad. Amel, si anak manja ini, harus jadi leader selama disana. Waktu itu aku berasa kayak Musa yang lagi disuruh Tuhan membawa bangsa Israel ke tanah Kanaan. Nggak tau itu letaknya dimana, nggak tau mau tinggal dimana, nggak tau apa-apa. Pokoknya bener-bener pasrah dan percaya Tuhan nggak bakal ninggalin.
Hari pertama kami tinggal di apartemen yang disewakan harian. Hari itu juga kami ke dokter dan disarankan tinggal disana minimal satu minggu. Kami mulai khawatir dengan biaya. (sempat ngomong sama Tuhan, ya ampun Tuhan.. kami kan nggak semampu dulu lagi..) Bagaikan bangsa Israel yang bersungut-sungut nggak bisa makan dan didatangkan manna, Tuhan kasih keajaiban lagi! Kami berkenalan dengan sepasang suami istri berhati mulia yang mengijinkan kami menumpang di rumahnya sampai pengobatan papa selesai. Bukan hanya itu, kesaksian hidup mereka berdua menjadi pelajaran buatku tentang bagaimana menikmati hidup bersama Tuhan di tengah pergumulan.
Setelah beberapa kali menjalani pengobatan di Singapura, perlahan-lahan kesehatan papa mengalami kemajuan. Aku rasa bukan karena berobat di luar negeri yang bikin papa makin baik. Obat2nya sama PERSIS kok dengan yang papa dapat di Indonesia. Semangat hidup dan keyakinan bahwa Tuhan mampu memberikan kesembuhan, yang buat papa tetap bertahan dan semakin baik. Sampai sekarang!
Selamat Ulang Tahun, Pa.. I love you! :)
0 comments:
Post a Comment