Friday, July 01, 2011

Watch your a.t.t.i.t.u.d.e, KOAS !! -_-"

Tiba-tiba aja gw pengen berkomentar tentang hal ini gara2 membaca status seorang adik kelas di sebuah jejaring sosial. Sebuah ungkapan yang menggambarkan kekesalannya mengenai kriteria penilaian yang (menurut gw juga sebenernya) subyektif. 

ATTITUDE. Sebuah penilaian  yang definisinya (lagi-lagi menurut gw) kabur, batasannya gak jelas, tetapi sering sekali dipakai untuk memuaskan ego orang2 yang diberi wewenang untuk melakukan penilaian. Okeee, sebelum lo semakin bingung, (hehe..) I’m talking ‘bout internship life, kehidupan koas, orang-orang yang derajatnya lebih hina daripada seorang pesuruh rumah sakit.

Seharusnya attitude itu dinilai dari cara kita memperlakukan pasien, cara kita berempati pada pasien dan keluarganya, cara kita bersikap dan berbicara dengan konsulen, cara kita menjaga nilai-nilai yang tercantum dalam sumpah Hippocrates. Penilaian attitude yang sensitif ini seharusnya nggak dicampuradukkan dengan penilaian pribadi, apalagi konflik pribadi. Seorang professional tidak seharusnya mencampuradukkan penilaian subyektifnya ke dalam nilai kepaniteraan seseorang. Tapi inilah yang sering terjadi. Entah terbawa budaya darimana, rasa sebel terhadap seseorang mempengaruhi penilaian dia terhadap orang itu, DAN pada akhirnya mempengaruhi kelulusan orang tersebut.

Gw pernah berada di antara orang-orang yang berteriak  “watch your attitude!”  Duduk diam di belakang mendengarkan rekan gw ribet sendiri ngomelin koas dengan ocehan2nya mengenai attitude, sementara hati gw rasanya teriris karena luka lama gw terkuak lagi.

Yup! Gw JUGA pernah berada di antara orang-orang yang diteriaki “watch your attitude!”  Diperlakukan seakan2 sampah, trouble maker, locus minoris persistence, target operasi, T.O. (you name it lah..). Dan yang lebih menyakitkan, gw nggak ngerti kenapa gw yang dapet perlakuan itu. It’s been 5 years ago, time heals (kata orang), berpuluh kali gw berusaha untuk memaafkan dia (eh mereka..). Berhasil?  Ya! Tapi menyisakan sikatriks :p

Membaca status adik kelas gw tadi, membuat gw sadar kalo gw telah gagal. Gagal mewujudkan tekad gw sebelum bergabung menjadi asisten : mengubah penilaian attitude menjadi lebih obyektif. Gagal mewujudkan sebuah kerinduan yang pernah gw share disini. Dan sampai pada akhirnya gw memutuskan meninggalkan tempat itu, gw masih mendengar keluhan yang sama, luapan kekesalan yang sama seperti yang gw ungkapkan 5 tahun yang lalu. *sigh*

0 comments: